SAKAMENA NEWS Ambon, 3 April 2025 – Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM), Pdt. Elifas Tomix Maspaitella, menyerukan kepada seluruh warga Maluku Tengah untuk mengedepankan perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan akibat konflik yang terjadi di beberapa wilayah. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden di Tulehu-Tial serta penyerangan terhadap warga Masihulan dan Rumaholat oleh warga Sawai di Kecamatan Seram Utara.
Dalam pernyataannya, Pdt. Elifas menegaskan bahwa perdamaian bukan sekadar nasihat kosong, tetapi merupakan cita-cita tertinggi seluruh umat manusia, terutama bagi mereka yang beragama. Ia mengingatkan bahwa dalam mewujudkan perdamaian, setiap individu harus mampu menahan diri dari amarah dan dendam serta tidak melakukan tindakan main hakim sendiri yang dapat merugikan orang lain.
“Mari kita wujudkan perdamaian. Saya kira pesan itu bukan sekadar nasihat kosong. Itu adalah cita-cita tertinggi dari semua umat manusia di dunia, apalagi umat beragama. Dalam rangka itu, kita harus selalu menahan hati dari amarah dan dendam, maka tidak perlu main hakim sendiri apalagi memukul orang yang tidak bersalah. Jika sudah jatuh korban, lalu siapa yang berani tampil untuk dihakimi sebagai yang bersalah? Selama ini tidak ada kan?”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Sinode GPM juga menyoroti bahwa penyelesaian konflik yang berulang-ulang tanpa menemukan akar permasalahan hanya akan menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung selesai. Ia menegaskan bahwa aktor intelektual di balik berbagai konflik ini sebenarnya ada dan diketahui, namun sering kali tidak tersentuh. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya keterlibatan negara dalam melindungi warganya serta menengahi setiap konflik yang terjadi.
“Kami berharap, negara melindungi warganya, dan menengahi semua konflik yang terjadi. Sebenarnya titik api konflik antar-warga di Maluku Tengah sudah bisa diidentifikasi. Jadi perlu keputusan-keputusan bijaksana dari pemerintah daerah dan aparat kepolisian untuk membangun pos-pos pengamanan secara permanen di titik-titik api itu. Hal itu menjadi jalan masuk untuk proses edukasi perdamaian dengan melibatkan stakeholders lain termasuk lembaga keagamaan.”
Pdt. Elifas juga menekankan bahwa konflik yang terjadi sering kali dipicu oleh masalah laten seperti sengketa batas tanah antar-negeri yang belum terselesaikan dengan baik. Menurutnya, negara harus mengambil peran aktif dalam menyelesaikan persoalan tersebut agar masyarakat tidak terus-menerus menjadi korban.
Sebagai pemimpin gereja, ia kembali mengingatkan masyarakat Maluku untuk tidak terus hidup dalam konflik dan dendam, tetapi belajar dari masa lalu untuk membangun kehidupan yang lebih baik ke depan.
“Kami, Gereja Protestan Maluku (GPM), tetap harus menyampaikan nasehat dan anjuran kepada semua warga di Maluku Tengah, mari wujudkan damai. Kita harus menjadi masyarakat yang cerdas untuk belajar keluar dari masa kelam, dan sembuhkan luka pahit masa lalu.”
Pernyataan ini juga merujuk pada hasil Persidangan ke-45 MPL Sinode GPM di Rumaholat pada November 2024, di mana GPM telah menyerukan pesan perdamaian bagi negeri-negeri pedalaman agar mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Ketua Sinode menutup pernyataannya dengan mengajak semua pihak untuk menghentikan konflik yang hanya akan menghambat kemajuan masyarakat Maluku.
“Hentikan konflik sebab tidak ada gunanya bagi persaudaraan dan bagi generasi kita.”
Dengan adanya pernyataan ini, diharapkan semua pihak dapat lebih mengedepankan dialog dan penyelesaian hukum yang adil untuk mencegah konflik berkelanjutan serta menjaga ketertiban dan keharmonisan di Maluku Tengah.
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Sumber Berita: WEB SINODE GPM








