SAKAMENA | Ambon — Auditorium Universitas Pattimura Ambon pada Rabu (12/11/2025) dipenuhi ribuan siswa SMP dan SMA dari berbagai sekolah di Kota Ambon yang antusias mengikuti kegiatan Seminar dan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) bertema “Maluku Bangkit dan Bersinar bagi Tuhan”. Kegiatan besar ini diselenggarakan oleh Yayasan Jelay Kasih Indonesia Semarang, dengan dukungan penuh dari Kementerian Agama Kanwil Maluku, serta dihadiri para guru pendamping, rohaniawan, dan tokoh gerejawi lintas denominasi di Maluku, bersama Asosiasi Pendeta Indonesia (API)
Acara tersebut menjadi momentum penting dalam upaya membangun karakter dan spiritualitas generasi muda Kristen di tengah berbagai tantangan moral, sosial, dan digitalisasi zaman. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana penuh sukacita, diiringi dengan puji-pujian, renungan rohani, dan penyampaian firman Tuhan dari para pembicara lokal dan internasional.

Kepala Bidang Bimas Kristen Kanwil Kemenag Maluku, Stepanus Tia, menegaskan bahwa kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pembinaan rohani yang sejalan dengan misi Kementerian Agama untuk memperkuat nilai iman di kalangan pelajar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kementerian Agama melihat kegiatan ini sebagai momen penting untuk membentuk karakter generasi muda. Ketika mereka jauh dari Tuhan, mereka mudah melakukan hal-hal yang tidak diinginkan. Melalui kegiatan seperti ini, siswa belajar membangun karakter, kebersamaan, dan iman yang kuat,” ungkap Stepanus Tia dalam sambutannya.
Lebih jauh, Stepanus menuturkan bahwa kerja sama dengan Yayasan Jelay Kasih akan dilanjutkan melalui sejumlah program pembinaan rutin di sekolah-sekolah.
“Kami sudah merancang agar setiap pagi siswa membaca Alkitab sebelum memulai kegiatan belajar. Selain itu, setiap hari Jumat akan ada pembinaan oleh penyuluh agama di sekolah-sekolah. Ke depan kami juga bentuk rayonisasi sekolah—misalnya SMA 1, SMA 2, dan SMA 3—yang tiga bulan sekali akan berkumpul untuk membangun kebersamaan dan memperkuat iman,” jelasnya.
Stepanus juga menambahkan, Kemenag Maluku tengah mempersiapkan pembentukan penyuluh agama Kristen di sekolah-sekolah negeri, yang secara khusus akan memberikan pembinaan karakter dan spiritualitas bagi siswa.
“Kami sudah menjalin komitmen agar penyuluh agama dapat hadir langsung di lingkungan sekolah. Selain itu, Yayasan Jelay Kasih juga telah membantu kami dengan menyediakan 1.000 Alkitab untuk dibagikan kepada para siswa,” tambahnya.

Sementara itu, Pdt. Pearl Edwin Kembaw, Ketua Panitia sekaligus pembicara lokal, menjelaskan bahwa kegiatan seminar dan KKR ini menyasar pelajar SMP dan SMA sebagai generasi penerus yang harus dipersiapkan secara rohani dan mental.
“Tema Maluku Bangkit dan Bersinar bagi Tuhan bukan hanya slogan, tapi ajakan agar anak-anak muda bangkit dengan kualitas spiritual dan mental yang kuat. Kami ingin mereka tidak hanya bersinar di atas panggung, tetapi juga dalam kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.
Pdt. Kembaw juga menceritakan bahwa kegiatan ini sebenarnya awalnya direncanakan digelar di Papua, namun karena faktor kesiapan panitia lokal dan besarnya antusiasme di Maluku, pelaksanaannya akhirnya dialihkan ke Ambon.
“Awalnya kami mau buat di Papua, tepatnya di Manokwari, tapi melihat kesiapan di Ambon dan kerja sama yang baik dari berbagai pihak, akhirnya diputuskan untuk digelar di sini. Acara ini sangat oikumenis, tidak untuk mendirikan gereja baru, melainkan memperkuat jemaat yang sudah ada. Setelah mereka diberkati dan dididik, para peserta akan kembali ke gereja masing-masing untuk bertumbuh di sana,” jelasnya.
Kegiatan yang menghadirkan pembicara internasional asal California, Amerika Serikat, Brian Bold, ini diikuti lebih dari 3.000 peserta. Namun, karena kapasitas gedung Unpatti yang sedang dalam proses renovasi, panitia hanya dapat menampung sekitar 2.000 peserta di ruang utama.
“Kami bersyukur atas antusiasme peserta. Meskipun kapasitas gedung terbatas, semangat mereka luar biasa. Ini membuktikan bahwa generasi muda Maluku rindu akan kebangunan rohani,” kata Pdt. Kembaw.
Dari pihak penyelenggara, Pembina Yayasan Jelay Kasih Indonesia Semarang, Timotius Tamtama, menjelaskan bahwa Yayasan Jelay Kasih telah lama bergerak di bidang pembinaan spiritualitas pelajar di berbagai kota di Indonesia, dan kini memperluas jangkauannya ke wilayah timur Indonesia.
“Awalnya kami mau ke Papua, tapi karena waktu dan kesiapan panitia lokal, kami memilih Maluku. Ambon adalah kota yang menarik, dengan banyak gereja dan anak-anak Tuhan yang siap bekerja sama,” ungkap Timotius.
Ia memaparkan bahwa Yayasan Jelay Kasih memiliki empat program utama pembinaan pelajar Kristen, yaitu:
- Persekutuan doa mingguan di sekolah-sekolah negeri dan swasta setiap hari Jumat.
- Rayonisasi antarwilayah (Ambon Utara, Selatan, Barat, dan Timur) yang dilaksanakan setiap tiga bulan untuk mempererat kebersamaan antar pelajar.
- Retret tahunan (Bible Camp) dan kegiatan Bible Bite — renungan harian dengan hadiah edukatif bagi siswa dan guru aktif.
- Program konseling online gratis melalui situs resmi yayasan, dengan pendampingan konselor bersertifikat.
“Kami ingin menciptakan ekosistem yang sehat bagi siswa Kristen agar mereka memiliki ketahanan mental dan spiritual. Mereka tidak hanya diajar, tetapi juga didampingi lewat bimbingan rohani dan konseling. Banyak anak muda yang menghadapi tekanan hidup, butuh tempat aman untuk berbagi,” jelas Timotius.
Program Yayasan Jelay Kasih telah dijalankan di sejumlah kota besar di Pulau Jawa seperti Semarang, Yogyakarta, dan Surabaya. Ke depan, pihaknya menargetkan perluasan program serupa ke berbagai kabupaten/kota di Maluku, termasuk Seram Bagian Barat, Maluku Tenggara, dan Kota Tual.
“Tahun depan kami akan memperluas kegiatan ini ke dua kabupaten atau kota di Maluku. Kami sudah menjalin koordinasi dengan Kemenag agar kegiatan seperti KKR dan pembinaan rohani bisa menjadi agenda tahunan bagi siswa-siswa Kristen di Maluku,” tandasnya.
Kegiatan KKR dan seminar “Maluku Bangkit dan Bersinar bagi Tuhan” menjadi simbol kebangkitan rohani generasi muda Kristen di Maluku. Kolaborasi antara Yayasan Jelay Kasih Indonesia Semarang dan Kemenag Kanwil Maluku ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan untuk menyalakan kembali “api Injil” di bumi raja-raja, membangun karakter iman, dan menumbuhkan semangat kebersamaan lintas sekolah serta denominasi gereja.








