SAKAMENA NEWS| AMBON – Langkah Pemerintah Kota Ambon di bawah komando WaliKota Bodewin M. Wattimena dan Wakil WaliKota Ely Toisuta untuk menertibkan kawasan Pasar Mardika, Terminal A1-A2, dan Terminal Batu Merah layak diapresiasi. Ini bukan sekadar penataan lapak, tapi operasi moral untuk mengembalikan pasar kepada hakikatnya: tempat rakyat kecil menggantungkan hidup.
Penertiban yang sebelumnya direncanakan 17-22 April 2025, dijadwalkan ulang ke 28 April 2025. Hal ini bukan bentuk kelemahan, melainkan strategi yang matang. Pemerintah sadar, upaya seberani ini harus dilakukan dengan rapi, legal, dan manusiawi. Namun tetap saja, keberanian untuk menindak para “penikmat kekuasaan pasar” harus menjadi tonggak yang tak boleh digoyang.
Kami mendengar langsung suara pedagang mereka yang bertahun-tahun dibiarkan menggantung, menjajakan dagangan di terik dan hujan, sementara gedung baru megah berdiri angkuh, dikelola oleh mereka yang dekat dengan pemilik modal, serta yang punya “ijin” dan “kepeng banyak”.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pernyataan seorang pedagang lama di mardika, Mama Koce (nama samaran):
“Gedung itu yang biking MI pung tamang bae, cina pende satu ada, dia kawaja, dong dua batamang bae paskali, lapis deng yang biasa datang deng baju-baju PNS tu lai, ada brapa orang tu, dong samua baku tarika, dong itu pikir kepeng saja, seng Inga katong lai”.
Bukan sekadar keluhan. Itu teriakan keadilan dari rakyat kecil yang selama ini hanya jadi tamu di rumahnya sendiri. Jika benar ada kongkalikong masa lalu antara elite dan pemodal, maka penertiban ini adalah bab awal pembongkaran sistem itu.
Kini, dengan kepemimpinan baru di Provinsi, Gubernur Hendrik Lewerissa dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath, harapan baru muncul. Kami menunggu langkah konkret dari pemimpin provinsi untuk menegaskan bahwa Maluku bukan tanah perburuan rente, melainkan rumah bersama yang adil dan berpihak pada rakyat.
Kami menyerukan agar penataan Pasar Mardika bukan hanya penertiban fisik, tapi juga pembenahan sistem pengelolaan: transparan, adil, tanpa kompromi dengan pemodal rakus. Jangan lagi rakyat kecil jadi korban, sementara pejabat sibuk “batamang bae” demi kantong pribadi.
Kawasan Pasar dan Terminal Mardika sampai Batu Merah harus menjadi Ikon dan tata kelola pasar dan terminal yang berstandar dalam kebersihan, tidak macet, sekaligus menjadi kawasan wisata lokal untuk leindahan view lautnya, karena letak strategis yang berada beberapa kilometer di sepanjang bibir pantai.
Mardika adalah milik kita semua. Mardika adalah milik rakyat. Mardika tidak boleh lagi menjadi ladang kekuasaan yang dikelola dari jauh oleh elite yang lupa daratan. Pasar ini bukan milik siapa-siapa, kecuali ibu-ibu penjual sayur dan ikan, bapak-bapak tukang sembako, dan anak-anak muda yang berjualan dari pagi hingga malam.
Jangan biarkan sejarah kelam penguasaan pasar oleh segelintir orang terulang lagi. Karena ini semua demi “Maluku dan Ambon pung Bae”
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








