SAKAMENA NEWS – Edisi Terminal & Pasar Mardika, Di tengah denyut nadi transportasi Kota Ambon, ada satu ruang publik yang sekarang ini mulai bangkit—Terminal & Pasar Mardika.

Hari ini, terminal dan pasar itu mulai bertransformasi. Setelah penertiban oleh Tim gabungan lintas OPD yang dipimpin langsung oleh Walikota dan Wakil Walikota Ambon Kharismatik, Bodewin Melkias Wattimena-Ely Toisutta.

Perlahan, warna mulai menyapa dindingnya, garis-garis cat mengganti kusam menjadi semangat, dan estetika urban city mulai hadir di pusat mobilitas rakyat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah perbaikan ini mungkin tampak sederhana: pengecatan ulang, pembersihan area, dan penataan ruang. Namun bagi kota yang sedang membangun kembali relasi antara warga dan ruang publiknya, ini adalah simbol. Sebuah pesan bahwa Ambon tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga merawat wajah kotanya dengan rasa dan cinta.
ESTETIKA SEBAGAI IDENTITAS KOTA

Terminal dan Pasar bukan sekadar ruang transit dan ekonomi, ia adalah panggung harian bagi interaksi sosial: tempat sopir angkot berseru, pedagang kaki lima menjemput rezeki, mama-mama papalele mengadu nasib, pelajar dan pekerja berpindah harapan dari satu titik ke titik lain. Kini, dengan sentuhan warna dan penataan ulang, terminal dan pasar ini menjadi etalase mini kota Ambon yang lebih tertib, lebih ramah, dan tentu lebih indah.
Langkah ini mencerminkan satu pemikiran penting dalam tata kota modern: estetika adalah bagian dari pelayanan publik. Ketika terminal dan pasar menjadi bersih, terang, dan teratur, itu bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menumbuhkan rasa aman, nyaman, dan bangga dari warga yang berkunjung dan menggunakannya.
KOTA AMBON DAN KEPEMIMPINAN YANG BERANI BERUBAH

Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Di baliknya ada visi dan langkah-langkah konkret yang mulai dijalankan oleh Pemerintah Kota Ambon di bawah kepemimpinan Wali Kota Ambon, Bodewin Melkias Wattimena. Dalam geliat kerja birokrasi yang berputar, Wali Kota dan jajarannya memilih mendengar detak kebutuhan warga.


Dalam konteks perencanaan wilayah dan pengelolaan aset publik, Terminal dan pasar bukan proyek mercusuar, bukan juga lahan kepeng bagi segelintir, tapi inilah bukti nyata bahwa kepemimpinan tidak harus menunggu proyek besar untuk bekerja. Membenahi yang kecil, merawat yang biasa, itulah pondasi kota yang humanis.
PERAN MASYARAKAT: DARI PENONTON JADI PEMILIK

Yang menggembirakan, perubahan di Terminal dan Pasar Mardika ini bukan hanya kerja top-down. Masyarakat mulai merasa memiliki, menyumbang tenaga dan pikiran, serta menjaga ruang itu dari sampah dan vandalisme sesat. Pedagang yang biasa berjualan pun kini turut serta menjaga kebersihan. Sopir dan penumpang mulai membiasakan antri dan tidak membuang sampah sembarangan.
Ini bukan hanya terminal yang berubah—ini budaya kota yang mulai tumbuh.
AMBON MENUJU KOTA YANG BERTATA DAN BERCITA RASA
Terminal dan Pasar Mardika hari ini sedang bercerita tentang arah baru Kota Ambon. Bahwa ruang publik bukan sekadar fasilitas teknis, melainkan ekspresi nilai: keterbukaan, keteraturan, dan keindahan.
Transformasi ini masih jauh dari selesai. Tapi langkah awal ini sudah cukup memberi harapan. Karena kota yang baik bukan kota yang dibangun besar, tapi yang dibangun dengan hati. dan itu berasal dari diri kita sendiri, dan pemimpin yang berani.
Catatan akhir Sakamena:
“Ambon bukan hanya manise karena lagunya, tapi juga karena warganya yang menjaga, dan pemimpinnya yang merawat.”
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








