SAKAMENA – Kamis, 6 November 2025 | Pelauw, Maluku Tengah —
Ritual adat Cakalele kembali digelar oleh masyarakat Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan berlangsung pada pukul 06.00 hingga 09.00 WIT dan dilanjutkan kembali pukul 14.00 WIT di depan Masjid Tua Pelauw sebagai puncak atraksi adat. Ribuan warga dan tamu undangan memadati lokasi acara untuk menyaksikan langsung tradisi sakral warisan leluhur Maluku tersebut.

1. Pelaksanaan dan Peserta
Panitia pelaksana Cakalele Negeri Pelauw telah menyebarkan undangan resmi kepada sejumlah pihak, antara lain:
- Forkopimda Provinsi Maluku,
- Negeri-negeri yang memiliki hubungan Pela dan Gandong dengan Pelauw,
- Masyarakat umum dari berbagai wilayah.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Ribuan pengunjung memenuhi kawasan acara sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya Maluku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
2. Makna Filosofis dan Spiritual
Cakalele bukan sekadar tarian perang, melainkan ritual adat yang sarat makna spiritual dan historis, antara lain:
- Penghormatan kepada leluhur, sebagai bentuk bakti kepada pendiri Negeri Pelauw.
- Simbol keberanian dan perlawanan, menggambarkan semangat juang dan ketangguhan orang Maluku.
- Ritual pembersihan negeri, diyakini mampu menolak pengaruh negatif dan roh jahat.
- Menjaga keseimbangan spiritual, antara alam nyata dan alam leluhur.
Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi kuat mengapa Cakalele tetap dipertahankan hingga kini.
3. Cakalele sebagai Jati Diri Masyarakat Pelauw
Tradisi Cakalele memiliki peran penting dalam membentuk identitas masyarakat Pelauw:
- Sebagai pembeda budaya, di tengah beragam tradisi khas Maluku seperti hela rotan (Aboru), buka sasi ikan lompa (Haruku), dan pukul sapu (Mamala–Morela).
- Sebagai perekat sosial, melibatkan seluruh unsur masyarakat mulai dari tetua adat (Saniri Negeri), para pemuda penari, hingga warga biasa.
- Sebagai simbol solidaritas soa dan marga, yang memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab menjaga warisan adat.
4. Nilai Sejarah dan Edukasi
Ritual Cakalele juga menjadi pengingat sejarah perjuangan masyarakat Pelauw, terutama Perang Kapaha yang melibatkan negeri tetangga Kailolo.
Melalui Cakalele, masyarakat Pelauw mengenang keberanian leluhur, bukan untuk menumbuhkan permusuhan, melainkan untuk mengajarkan nilai perdamaian dan persaudaraan kepada generasi muda.
5. Transformasi ke Era Modern
Dalam konteks modern, Cakalele kini juga memiliki fungsi budaya dan pariwisata, di antaranya:
- Promosi budaya daerah, dengan menjadikan Cakalele sebagai ikon wisata Maluku yang bernilai historis dan spiritual.
- Diplomasi budaya, meski ritual ini masih terbatas ditampilkan di lokasi adat Pelauw karena sifatnya sakral, masyarakat setempat bersama komunitas pemuda mulai menjalin kerja sama dengan Kementerian Pariwisata untuk mendorong pengakuan nasional terhadap Cakalele sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.
6. Kesimpulan
Bagi masyarakat Negeri Pelauw, Cakalele bukan sekadar seremoni adat, melainkan nafas kehidupan yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan identitas kolektif mereka.
Melalui Cakalele, orang Pelauw terus menjaga keseimbangan spiritual negeri, menghormati leluhur, memperkuat solidaritas soa, serta menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus agar warisan budaya Maluku tetap abadi.
Sumber Informasi:
- Tokoh Adat Negeri Pelauw
- Tokoh Masyarakat Negeri Pelauw
- Warga Negeri Pelauw
Reporter Sakamena | Editor: Redaksi Sakamena News
Penulis : EZF
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








