Cakalele Pelauw: Nafas Leluhur yang Tak Pernah Padam di Tanah Haruku

Kamis, 6 November 2025 - 13:01 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAKAMENA – Kamis, 6 November 2025 | Pelauw, Maluku Tengah
Ritual adat Cakalele kembali digelar oleh masyarakat Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah. Kegiatan berlangsung pada pukul 06.00 hingga 09.00 WIT dan dilanjutkan kembali pukul 14.00 WIT di depan Masjid Tua Pelauw sebagai puncak atraksi adat. Ribuan warga dan tamu undangan memadati lokasi acara untuk menyaksikan langsung tradisi sakral warisan leluhur Maluku tersebut.


1. Pelaksanaan dan Peserta

Panitia pelaksana Cakalele Negeri Pelauw telah menyebarkan undangan resmi kepada sejumlah pihak, antara lain:

  • Forkopimda Provinsi Maluku,
  • Negeri-negeri yang memiliki hubungan Pela dan Gandong dengan Pelauw,
  • Masyarakat umum dari berbagai wilayah.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Ribuan pengunjung memenuhi kawasan acara sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian adat dan budaya Maluku.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT


2. Makna Filosofis dan Spiritual

Cakalele bukan sekadar tarian perang, melainkan ritual adat yang sarat makna spiritual dan historis, antara lain:

  • Penghormatan kepada leluhur, sebagai bentuk bakti kepada pendiri Negeri Pelauw.
  • Simbol keberanian dan perlawanan, menggambarkan semangat juang dan ketangguhan orang Maluku.
  • Ritual pembersihan negeri, diyakini mampu menolak pengaruh negatif dan roh jahat.
  • Menjaga keseimbangan spiritual, antara alam nyata dan alam leluhur.
Baca Juga :  Komisi I DPRD Maluku Gelar RDP Bahas Polemik Speed Bump Depan Rindam XV/Pattimura: Keselamatan Jadi Prioritas Utama

Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi kuat mengapa Cakalele tetap dipertahankan hingga kini.


3. Cakalele sebagai Jati Diri Masyarakat Pelauw

Tradisi Cakalele memiliki peran penting dalam membentuk identitas masyarakat Pelauw:

  • Sebagai pembeda budaya, di tengah beragam tradisi khas Maluku seperti hela rotan (Aboru), buka sasi ikan lompa (Haruku), dan pukul sapu (Mamala–Morela).
  • Sebagai perekat sosial, melibatkan seluruh unsur masyarakat mulai dari tetua adat (Saniri Negeri), para pemuda penari, hingga warga biasa.
  • Sebagai simbol solidaritas soa dan marga, yang memperkuat rasa kebersamaan dan tanggung jawab menjaga warisan adat.

4. Nilai Sejarah dan Edukasi

Ritual Cakalele juga menjadi pengingat sejarah perjuangan masyarakat Pelauw, terutama Perang Kapaha yang melibatkan negeri tetangga Kailolo.
Melalui Cakalele, masyarakat Pelauw mengenang keberanian leluhur, bukan untuk menumbuhkan permusuhan, melainkan untuk mengajarkan nilai perdamaian dan persaudaraan kepada generasi muda.

Baca Juga :  Dalam Momen Halal Bihalal 1446 H/2025 M, Latuconsina Ajak DKP Maluku Perkuat Silaturahmi, Sinergi, dan Komitmen Bangun Sektor Kelautan yang Berkelanjutan

5. Transformasi ke Era Modern

Dalam konteks modern, Cakalele kini juga memiliki fungsi budaya dan pariwisata, di antaranya:

  • Promosi budaya daerah, dengan menjadikan Cakalele sebagai ikon wisata Maluku yang bernilai historis dan spiritual.
  • Diplomasi budaya, meski ritual ini masih terbatas ditampilkan di lokasi adat Pelauw karena sifatnya sakral, masyarakat setempat bersama komunitas pemuda mulai menjalin kerja sama dengan Kementerian Pariwisata untuk mendorong pengakuan nasional terhadap Cakalele sebagai warisan budaya takbenda Indonesia.

6. Kesimpulan

Bagi masyarakat Negeri Pelauw, Cakalele bukan sekadar seremoni adat, melainkan nafas kehidupan yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan identitas kolektif mereka.
Melalui Cakalele, orang Pelauw terus menjaga keseimbangan spiritual negeri, menghormati leluhur, memperkuat solidaritas soa, serta menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus agar warisan budaya Maluku tetap abadi.


Sumber Informasi:

  1. Tokoh Adat Negeri Pelauw
  2. Tokoh Masyarakat Negeri Pelauw
  3. Warga Negeri Pelauw

Reporter Sakamena | Editor: Redaksi Sakamena News

Penulis : EZF

Editor : Tim Redaksi Sakamena News

Berita Terkait

Sambut Mudik Lebaran 2026: Kuota Tiket Kapal Naik 40%, 14.000 Slot Disiapkan!
Dirut PT. Pelayaran Dharma Indah: Penurunan Harga Tiket di MBD Perlu Subsidi Pemerintah
Aset Nganggur di Maluku Siap Dilelang, BPKAD: Daripada Jadi Beban, Lebih Baik Jadi PAD
Bank Maluku Malut “Go Global”! Debit Card Segera Terhubung Jaringan Visa, Transaksi Kini Tembus Pasar Internasional
Percepat Infrastruktur, Bank Maluku Malut Kucurkan Kredit Khusus Proyek Strategis Daerah!
Dobrak Batas Geografis, Bank Maluku Malut Sebar Agen Laku Pandai 24 Jam Hingga ke Pelosok Desa!
Bank Maluku Malut ‘Tancap Gas’ Lewat SIPD RI, Pembayaran Vendor Pemda Makin Kilat!
Akselerasi Digital: Bank Maluku Malut Integrasikan SIPD RI, Bayar Vendor Pemda Kini Hitungan Menit

Berita Terkait

Jumat, 13 Maret 2026 - 13:32 WIT

Sambut Mudik Lebaran 2026: Kuota Tiket Kapal Naik 40%, 14.000 Slot Disiapkan!

Jumat, 13 Maret 2026 - 13:10 WIT

Dirut PT. Pelayaran Dharma Indah: Penurunan Harga Tiket di MBD Perlu Subsidi Pemerintah

Jumat, 6 Maret 2026 - 12:39 WIT

Aset Nganggur di Maluku Siap Dilelang, BPKAD: Daripada Jadi Beban, Lebih Baik Jadi PAD

Jumat, 6 Maret 2026 - 09:17 WIT

Bank Maluku Malut “Go Global”! Debit Card Segera Terhubung Jaringan Visa, Transaksi Kini Tembus Pasar Internasional

Jumat, 6 Maret 2026 - 09:12 WIT

Percepat Infrastruktur, Bank Maluku Malut Kucurkan Kredit Khusus Proyek Strategis Daerah!

Berita Terbaru