AMBON—Laporan dari Meja Sakamena: Di tengah semangat Ambon Smart City dan tagline “BetaParAmbon AmbonParSamua”, ternyata Dinas Pariwisata Kota Ambon malah sibuk promosi nostalgia. Bukan nostalgia manis cinta pertama, tapi nostalgia data tahun 2016–2019 yang dibungkus rapi dalam buku baru dengan plastik “niuw” dan cetakan “manyala”.
Dalam event internasional ICHM 2025 yang diselenggarakan Fakultas Kedokteran Unpatti,(Hotel Santika Ambon 8-9 Mei 2025) tamu-tamu dalam dan luar negeri disambut dengan hangat, tapi dengan buku usang bersampul “TABEA Wisata Kota Ambon Manise”.yang di letakkan di meja dekat pintu masuk ruang kegiatan sebelah kiri. Lucunya, kata “TABEA” sendiri adalah jargon dari mantan Wali Kota Richard Louhenapessy yang adalah mantan Wali Kota Ambon yang kini sedang dipidana karena kasus Korupsi. Walikota Richard Louhenapessy tidak bisa kita pungkiri, memiliki jasa besar dalam hal pembangunan pariwisata di Kota Ambon. Namun saat ini sudah sangat tidak relevan karena yang disuguhkan adalah data-data lawas alias data-data nostalgia.
Buku TABEA ini menyajikan lokasi wisata di Kota Ambon yang tampaknya sangat bagus sampulnya namun kayaknya diciptakan untuk wisatawan yang punya mesin waktu. Bahkan dalam salah satu halaman, data “Ambon Dalam Angka” bersumber dari BPS tahun 2016.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari peternakan, perikanan, kesehatan, pendidikan, sampai pariwisata semua memakai data yang mungkin terakhir diperiksa saat tamu-tamu mancanegara ini belum mimpi datang ke Ambon.
Yang bikin tambah ngakak, banyak bermunculan restoran-restoran besar dan cafe-cafe yang menjamur di Kota Ambon salah satu contoh restoran besar seperti Sari Gurih Resto di Lateri yang sudah berdiri megah, tidak masuk dalam daftar. Mungkin karena buku ini dicetak saat tempat itu masih berupa tanah kosong dan rumput liar, dan restoran dan cafe-cafe baru yang menjamur masih berada dalam tahapan mimpi owner-nya.
Satu lagi karya fenomenal yang disuguhkan Dinas Pariwisata adalah buku saku “Profil Pariwisata”. Tapi isinya bukan profil 2025, melainkan catatan harian tahun 2019. Tidak heran, salah satu tamu dari luar negeri yang membaca buku ini sempat tertawa kecil. Kami belum tahu apakah dia geli atau cuma salah paham, mengira ini bagian dari humor lokal, karena di salah satu lembar buku saku itu masih tertulis imbauan Protokol Kesehatan Covid-19. Lengkap! Cuci tangan pakai sabun, pakai masker, hindari jabat tangan dan keramaian. Terkesan sayang dengan masa lalu pandemi, Dinas Pariwisata seolah berkata, “Yang penting ada protokol, entah relevan atau tidak.”

Padahal saat ini Kota Ambon sudah dapat penghargaan tambahan dari UNESCO sebagai Kota Musik Dunia, dan lokasi Music Tourism telah berkembang lebih dari 10 titik. Salah satu yang terbaru adalah Hutan Musik di Siwang. Tapi di buku “Music Tourism Ambon” yang disuguhkan? Masih data lama. Lokasi 10 biji, tidak ada tambahan apa-apa, masih memakai prestasi penghargaan UNESCO yang pertama, seolah Ambon tidak pernah maju sejak deklarasi pertama.
Buku-buku ini masih terlihat baru, kinclong, dan wangi tinta cetakan. Orang Ambon bilang masih “niuw” Tapi isinya, aduh… lebih cocok dijadikan bahan ujian sejarah ketimbang referensi pariwisata modern.
Ironisnya, Kota Ambon sedang diarahkan jadi Smart City berbasis pariwisata dan UMKM. Ada 17 Program Prioritas ala duet Wali Kota Bodewin Wattimena – Ely Toisutta, tapi dinas pariwisatanya malah sibuk bagi-bagi buku jadul. Seharusnya, update data bukan pakai prinsip “yang penting ada”, tapi harus berdasarkan data BPS terbaru dan realita lapangan.
Pertanyaannya: Apakah Dinas Pariwisata Kota Ambon masih hidup di masa kini? Atau sedang terjebak dalam mesin waktu literasi?
Karena yang namanya tamu internasional datang bukan untuk napak tilas, tapi untuk tahu wajah terkini Kota Ambon. Kalau begitu caranya, bisa-bisa tamu-tamu mulai berpikir: jangan-jangan lokasi wisata yang disebut juga sudah berubah jadi kos-kosan.
Sudah dua kali Pj. Wali Kota ganti, sampai PJ. Walikota sudah Jadi Walikota, masa isi buku pariwisata belum juga ganti? masih pakai buku lama yang masih sempat dijadikan bahan literasi untuk tamu-tamu mancanegara, Naikkan level dong bro!!! jangan cuma cetak, tapi update!!!
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








