Firdaus Ahmad Fauzi Ditemukan Meninggal Dunia di Gunung Binaiya Setelah 21 Hari Pencarian Intensif oleh Tim SAR Relawan PAM

Gunung Binaiya, 17 Mei 2025 – SAKAMENA NEWS
Setelah lebih dari dua minggu pencarian intensif, pendaki asal Indonesia, Firdaus Ahmad Fauzi (27), yang dilaporkan hilang sejak 26 April 2025 saat mendaki Gunung Binaiya, akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia oleh Tim SAR Relawan Pecinta Alam Maluku (PAM) pada Sabtu, 17 Mei 2025, sekitar pukul 14.30 WIT.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Korban ditemukan di area terjal aliran Sungai Yahe, pada titik koordinat 3°12’13.6” S, 129°30’58.3” E, yang sebelumnya menjadi titik terakhir pendeteksian jejaknya. Pencarian sempat tertunda pada fase awal karena keterbatasan alat, namun berhasil dilanjutkan dengan peralatan vertical rescue yang lebih lengkap. Jenazah korban kemudian dievakuasi secara estafet menuju Desa Piliana.

Kronologi Operasi SAR Lanjutan
Operasi SAR lanjutan dimulai sejak 12 Mei 2025 dengan melibatkan tiga tim Search and Rescue Unit (SRU) serta masyarakat adat Nusawelue Saunulu. Berikut rincian operasinya:
- 12–14 Mei 2025: Koordinasi dengan adat di Piliana, prosesi adat, dan pembagian wilayah pencarian.
- 15–16 Mei 2025: Tim menyisir lokasi sesuai peta pencarian.
- 17 Mei 2025: Penemuan jenazah di Sungai Yahe, lalu dilaporkan ke pos induk di Desa Piliana melalui HT.
Statistik Pendakian Gunung Binaiya
Gunung Binaiya (3.027 mdpl) adalah titik tertinggi di Provinsi Maluku dan termasuk dalam jajaran Seven Summits Indonesia. Data dari komunitas pendaki dan Dinas Pariwisata Maluku menunjukkan bahwa:
- Rata-rata 400–600 pendaki mengunjungi Gunung Binaiya setiap tahun.
- Sekitar 70% pendaki berasal dari luar Maluku, termasuk dari Pulau Jawa, Sulawesi, dan luar negeri.
- Dalam lima tahun terakhir, tercatat 7 kasus pendaki tersesat atau hilang, dengan 2 korban meninggal dunia, termasuk kasus Firdaus Ahmad Fauzi.
Kondisi Alam dan Tantangan Teknis
Gunung Binaiya terkenal dengan medan ekstrem dan akses yang terbatas:
- Vegetasi padat dan tanpa jalur pendakian resmi yang terkelola dengan baik, menjadikan orientasi medan sangat sulit, terutama bagi pendaki solo atau minim pengalaman.
- Cuaca di kawasan ini berubah sangat cepat, dengan curah hujan tinggi, kabut tebal, dan jalur yang licin serta curam.
- Sungai-sungai seperti Yahe memiliki arus deras dan tebing sempit yang berbahaya, menjadikannya lokasi rawan kecelakaan dan sulit dijangkau untuk operasi penyelamatan.
Apresiasi dan Duka Cita
Koordinator Tim SAR Relawan PAM, M. Nazir Rumra, menyampaikan rasa duka yang mendalam atas kepergian Firdaus, serta apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalam operasi ini.
“Terima kasih sebesar-besarnya kepada semua relawan, masyarakat adat, dan tim pendukung. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,” ujar Nazir.
Evakuasi jenazah masih terus berlangsung menuju Desa Piliana dan selanjutnya akan diserahkan kepada pihak keluarga.
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Editor : Tim Redaksi Sakamena News
Sumber Berita: Rilis Resmi Tim SAR Relawan Pecinta Alam








