SAKAMENA | Ambon, 22 November 2025 — Upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan di Maluku kembali mendapat ruang apresiasi melalui penyelenggaraan Pagelaran Budaya Sanggar Seni dan Budaya Iwyolaini, yang digelar pada Sabtu (22/11) di Aula Terbuka Wisma Sandeq Gonzalo Veloso.

Acara ini menjadi momentum penting bagi masyarakat budaya di Maluku, khususnya Pulau Masela, karena menampilkan berbagai bentuk ekspresi seni tradisional yang telah menjadi identitas kolektif masyarakat setempat.
Acara pembukaan berlangsung khidmat dan penuh kekeluargaan, dihadiri oleh Pamong Budaya Ahli Muda sebagai Perwakilan BPK Wilayah XX, Eklevina Eirumkuy, SS.,MSi. sebagai perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XX Maluku, para tokoh adat, Organisasi Paguyuban se-Pulau Masela di Kota Ambon, serta para pelaku seni dan masyarakat pecinta budaya. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan kuatnya semangat kolaboratif dalam menjaga keberlanjutan seni dan budaya daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sanggar Iwyolaini: Tiga Dekade Konsisten Mewariskan Seni

Dalam laporan resminya, Ketua Sanggar Seni dan Budaya Iwyolaini, Dendy J. S. Tiwery menyampaikan bahwa sanggar yang berdiri sejak tahun 1990 ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kotamadya Ambon. Selama lebih dari tiga dekade, sanggar ini terus berkomitmen membina seni tari, seni musik, dan seni ukir sebagai bekal kecakapan hidup serta sebagai ruang pembinaan generasi muda untuk mempertahankan warisan leluhur.

Sanggar Iwyolaini juga dikenal sebagai salah satu komunitas seni yang terlibat aktif dalam kerja-kerja budaya monumental, termasuk Tari Seka Besar (Ehe Lawn) dan karya ukir perahu tradisional Poya, dua karya budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia. Tari Seka Besar tercatat sebagai WBTB sejak 2013, menyusul Perahu Poya pada 2014. Selain itu, Tari Maku-Maku dari Negeri Souhuku juga masuk daftar WBTB tahun 2013.
Penetapan tiga karya tersebut menjadi WBTB memperlihatkan kuatnya kontribusi masyarakat budaya Iwyolaini dalam merawat dan menghidupkan tradisi. Sanggar Iwyolaini disebut berperan penting sebagai pemilik, penggiat, sekaligus motor penggerak berbagai kegiatan kebudayaan yang melibatkan pemerintah dan masyarakat.
Mendukung Kebijakan Pemajuan Kebudayaan
Ketua Sanggar menegaskan bahwa penyelenggaraan pagelaran budaya kali ini sejalan dengan amanat Pasal 32 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menempatkan masyarakat sebagai pemilik dan penggerak utama kebudayaan nasional. Seni, sebagai bagian penting dari objek pemajuan kebudayaan, menjadi sarana ekspresi kreatif manusia yang mampu menginspirasi dan menggerakkan nilai-nilai estetika, moral, dan spiritual.
Melalui kebijakan “Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan” dari BPK Wilayah XX Maluku, pemerintah memberikan dukungan bagi komunitas seni untuk terus menampilkan karya, memperluas ruang ekspresi, sekaligus memastikan keberlanjutan tradisi di tengah perkembangan zaman. Pada tahun 2025 ini, Sanggar Iwyolaini mendapat kesempatan menyelenggarakan pagelaran budaya dengan dukungan anggaran sebesar Rp50.000.000.
Pagelaran Menampilkan Tujuh Materi Budaya
Dalam pagelaran kali ini, Sanggar Iwyolaini menyajikan tujuh materi seni dan budaya, yaitu:
- Tari Seka Besar (Ehe Lawn)
- Tari Maku-Maku
- Tari Orlapei
- Solo (vokal)
- Ukulele
- Busana Adat
- Pameran Seni
Di antara penampilan tersebut, perhatian publik banyak tertuju pada tiga karya budaya yang telah ditetapkan sebagai WBTB, yakni:
- Tari Seka Besar (Ehe Lawn) dari Desa Babyotan, Kecamatan Pulau Masela, Maluku Barat Daya
- Tari Maku-Maku dari Negeri Souhuku, Kecamatan Amahei, Maluku Tengah
- Patung Poya (Perahu) dari Desa Iblatmuntah, Kecamatan Pulau Masela, Maluku Barat Daya
Ketiga karya tersebut tampil dengan komposisi penuh, melibatkan seniman muda dan senior, menampilkan harmoni gerak, musik, dan visual yang memukau penonton.
Apresiasi dan Harapan
Ketua Sanggar Iwyolaini dalam penutup laporannya menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa keberhasilan pagelaran budaya tidak terlepas dari dukungan pemerintah, organisasi paguyuban, tokoh adat, serta seluruh masyarakat pecinta seni.
“Tidak ada gading yang tak retak. Jika terdapat kekurangan, itu menjadi bagian dari pembelajaran untuk kegiatan selanjutnya,” ujarnya dengan penuh rendah hati.
Pada akhir acara, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XX Maluku—melalui perwakilan Pamong Budaya—secara resmi membuka pagelaran dengan pemukulan Praya (Tifa Besar), disusul kunjungan ke pameran patung dan basta, yang menjadi bagian penting dalam dokumentasi kekayaan budaya lokal.
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








