Sakamenanews.com, AMBON – Pemerintah menargetkan Indonesia bebas malaria pada 2030 sebagai bagian dari prioritas pembangunan nasional menuju Generasi Emas 2045. Dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Parasitologi Universitas Pattimura, Senin (11/8/2025), Prof. Dr. Maria Nindatu , Dra., M.Kes., menegaskan bahwa, eliminasi malaria di Maluku memerlukan harmonisasi sumber daya, riset terpadu, serta pemanfaatan potensi lokal.
“Program eliminasi bukan sekadar menurunkan angka kasus, tetapi mengembalikan keseimbangan dengan alam, memanfaatkan tanaman obat seperti cempeda, lemburung meit, kayu titi, sambiloto, dan lamun untuk menjaga imunitas masyarakat,” ujarnya.
Berdasarkan data capaian nasional, Maluku kini berada di zona kuning penyebaran malaria dengan tingkat keberhasilan di atas 70% menuju target bebas malaria 2028. Capaian ini didukung regulasi nasional, namun Prof. Maria mengingatkan adanya tantangan baru berupa mobilitas penduduk dari wilayah endemis tinggi ke daerah bebas malaria, khususnya melalui Kota Ambon sebagai pintu transit wilayah timur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita perlu mewaspadai transmisi silang yang dapat mengancam daerah bebas malaria, sehingga pengawasan dan riset terintegrasi harus terus diperkuat,” tegasnya.
Prof. Maria menekankan bahwa, keberhasilan eliminasi malaria tak hanya bergantung pada intervensi medis, tetapi juga partisipasi masyarakat menjaga sanitasi, mencegah reinfeksi, dan mengendalikan lingkungan.
Ia mendorong inovasi berbasis potensi lokal seperti produk nutraceutical berantioksidan tinggi serta pemetaan wilayah yang belum mencapai 95% keberhasilan.
“Jika seluruh elemen bersatu pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, dan masyarakat maka bebas malaria bukan hanya slogan, tetapi kenyataan yang akan kita capai bersama,” pungkasnya.








