Sumy, Ukraina — Teror perang kembali menelan korban jiwa di tengah kota Sumy, Ukraina. Sedikitnya 34 warga sipil tewas dan 117 lainnya luka-luka setelah rudal balistik Rusia menghantam pusat kota saat masyarakat tengah menghadiri ibadah Minggu Palma (Palm Sunday), salah satu hari suci terpenting dalam kalender gereja.
Serangan ini merupakan yang paling mematikan sepanjang tahun 2025 dan menjadi pengingat mengerikan bahwa perang masih jauh dari kata selesai.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengecam keras serangan ini, menyebutnya sebagai aksi teror yang disengaja dan menyerukan respons tegas dari komunitas internasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Rusia ingin menciptakan teror seperti ini dan sengaja memperpanjang perang. Bicara tidak pernah menghentikan rudal balistik dan bom. Dunia harus memperlakukan Rusia seperti teroris,” tegas Zelensky dalam pidato resminya.
Zelensky mengungkapkan bahwa satu rudal menghantam gedung universitas, dan selang beberapa saat, rudal kedua meledak tepat di atas jalan utama di pusat kota.
Rudal Balistik & Amunisi Cluster
Otoritas Ukraina menduga kuat bahwa Rusia menggunakan amunisi cluster dalam serangan ini — jenis senjata yang melepaskan banyak bahan peledak ke area luas dan sangat berbahaya bagi warga sipil.
“Serangan ini jelas menargetkan kerumunan warga sipil. Rudal dengan amunisi cluster adalah cara Rusia membunuh sebanyak mungkin warga,” ungkap Andriy Yermak, Kepala Kantor Presiden Ukraina.
Reaksi Dunia
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut serangan ini sebagai tragedi kemanusiaan dan mendukung langkah Presiden Trump untuk mencari jalan keluar damai dari perang ini.
“Serangan mengerikan ini jadi pengingat mengapa Presiden Trump dan timnya bekerja keras menciptakan perdamaian yang berkelanjutan,” tulis Rubio di X.
Keith Kellogg, utusan khusus pemerintahan Trump, juga mengecam keras serangan ini.
“Sebagai mantan militer, saya paham soal target serangan. Ini melampaui batas moral. Ini harus dihentikan,” ujarnya.
Sasaran Ibadah & Jalanan Padat
Menurut otoritas setempat, rudal ditembakkan tepat ketika masyarakat memadati pusat kota untuk ibadah Minggu. Kepala Administrasi Militer Sumy, Volodymyr Artyukh, menyebutkan bahwa pada saat serangan, “banyak warga berada di jalanan dan gereja.”
Korban Terbanyak Sejak 2023
Serangan ini disebut sebagai yang terburuk sejak tragedi Kupiansk tahun 2023, yang saat itu menewaskan 51 warga sipil dalam satu hari.
Rekaman video dari tempat kejadian memperlihatkan bangunan hancur, kaca-kaca beterbangan, dan tubuh korban berserakan, ditutupi selimut darurat.
Seruan untuk Aksi Global
Zelensky kembali menegaskan bahwa tanpa tekanan nyata terhadap agresor, perdamaian tidak akan pernah tercapai.
“Berhenti bicara. Mulailah bertindak. Tekanan internasional harus nyata,” tutupnya.
Editor : Weyber Pagaya
Sumber Berita: Kantor Berita Ukraina








