Oleh : Charles Gigir Anidlah
Bayangkan sebuah provinsi kepulauan di timur Indonesia, kaya akan laut dan budaya, namun diam-diam sedang berubah. Bukan karena gempa, bukan pula karena badai di lautan lepas. Tapi karena sesuatu yang lebih diam, dan tetap begitu : demografi.
Provinsi Maluku, seperti banyak wilayah lain di dunia, sedang mengalami pergeseran penduduk, sebuah transformasi senyap yang sering luput dari perbincangan publik. Tanpa data berbicara kita tidak bisa menyelami “kesenyapan” itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Fakta Diam-Diam : Populasi Tak Lagi Muda
Dalam waktu kurang dari dua dekade, dunia akan menjadi tua. Dan Indonesia pun tidak terkecuali. Tahun 2023, penduduk lansia (60 tahun ke atas) telah mencapai 11,75% dari total populasi Indonesia. Sebuah angka yang dulu hanya kita baca dalam laporan negara maju.
Apakah ini juga terjadi di Maluku? Mungkin tidak semasif Jakarta atau Jawa Barat, tapi arah perubahannya sama, “koheren”. Ya, karena banyak yang “manis” di sana “pendidikan”. Juga janjian masa depan, bukan gengsi.
Data dari BPS Maluku menunjukkan bahwa:
- Angka kelahiran (TFR) di Maluku sudah menurun ke kisaran 2,3 anak per perempuan, mendekati tingkat pengganti generasi.
- Pertumbuhan penduduk mulai melambat: dari 1,64% (2010–2020) menjadi 1,3% pasca 2020.
- Urbanisasi meningkat: lebih dari 54% penduduk Maluku kini tinggal di wilayah perkotaan, naik dari 48% satu dekade lalu.
Ketika Anak Muda Pergi, yang Tersisa Menjadi Tua
Stephen J. Shaw dalam film dokumenternya Birthgap menggambarkan betapa banyak kota di dunia kini kehilangan penduduk mudanya. Hal ini terasa nyata di Maluku.
Setiap tahun, ribuan anak muda Maluku pindah ke kota besar — Ambon, Makassar, Surabaya, bahkan Australia — bukan karena ingin, tetapi karena merasa harus. Sekolah di luar. Cari kerja. Cari masa depan. Apa yang tertinggal di kampung halaman? Orang tua. Perempuan tua. Rumah kosong. Sekolah yang sepi.
Krisis yang Tak Dianggap Untuk “Ditakuti”
Kita sering menganggap “krisis” hanya saat harga naik, pangan kurang, kapal dihantam ombak di laut, atau konflik meledak. Bisa juga krisis akibat tambahan “perut” secara cepat setiap hari. Penyebabnya kelahiran, orang datang, dan lain-lain.
Tapi bagaimana dengan populasi yang menyusut diam-diam? Bagaimana jika nanti tak ada cukup guru untuk mengajar, tak cukup anak untuk masuk sekolah, tak cukup tangan untuk mengelola laut dan kebun?
Shaw menekankan satu hal penting: ini bukan soal jumlah penduduk semata, tapi struktur umur dan arah arus migrasi. Dan ini adalah kisah yang sangat relevan untuk Maluku hari ini.
Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
- Tanyakan ulang asumsi lama. Apakah kita masih membangun sekolah dasar saat angka kelahiran turun? Apakah kita masih mengabaikan investasi di sektor lansia?
- Bangun kampung untuk kembali dihuni. Buatlah kampung yang cukup modern untuk dihuni anak muda, tapi tetap akrab bagi orang tua mereka.
- Investasi pada konektivitas dan kreativitas. Maluku tak harus menunggu investasi besar. Yang dibutuhkan adalah jaringan, ide, dan ruang untuk inovasi.
Penutup: Demografi, Tidak Selalu Takdir
Sesuatu yang sudah pasti yaitu perubahan populasi bukanlah takdir mutlak. Ia adalah cermin dari pilihan-pilihan kita sebagai masyarakat. Bagian dari keberhasilan “rekayasa sosial” yang kita lakukan. Dan hari ini, Maluku berada di persimpangan itu.
Bersyukurlah kalau Maluku benar-benar “tua”, karena wilayah yang mayoritas berumur tua biasanya kemiskinannya rendah.
Pertanyaannya: apakah kita akan memilih untuk menyadarinya sekarang, atau menyesalinya nanti?
Penulis adalah Fungsional Statistisi BPS Provinsi Maluku
Penulis : Charles Gigir Anidlah
Editor : Weyber Pagaya,SH








