Sebuah Sambutan, Sebuah Warna: Simbol atau Kebetulan?

Selasa, 4 Maret 2025 - 18:03 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

SakamenaNews.com – Langit Bandara Pattimura sore itu menyambut Garuda Indonesia yang membawa Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH., LLM., dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath, S.Sos. Pesawat mendarat mulus di Bandara Pattimura, Laha, tepat pukul 15.03 WIT, menandai awal babak baru kepemimpinan di bumi raja-raja.

Begitu kaki mereka menjejak tanah, sambutan adat langsung mengiringi—iringan tarian cakalele, prosesi adat, dan kalungan syal tenun khas Maluku. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian: warna syal yang digunakan.

Hanya ada satu warna—biru.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gubernur Hendrik, dengan nada bertanya, menyoroti pilihan itu. “Seng ada warna lain lagi, cuma biru saja?” ucapnya sembari melangkah.

Pertanyaan itu menggantung di udara. Bagi sebagian orang, mungkin ini sekadar kain penyambutan. Namun, dalam adat Maluku, warna bukan sekadar estetika. Merah melambangkan keberanian dan perjuangan, putih mencerminkan kesucian dan persatuan, sementara hitam adalah simbol ketegasan dan kekuatan. Lalu, mengapa kali ini hanya biru yang tampak?

Apakah ini kebetulan? Atau ada pesan tersirat?

Biru memang kerap dikenakan oleh Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath dalam berbagai kesempatan. Warna ini diasosiasikan dengan ketenangan, stabilitas, dan kepercayaan. Bisa jadi, ini adalah refleksi dari arah kepemimpinan yang mereka bawa—kepemimpinan yang menenangkan, solid, dan penuh kepercayaan. Namun, dalam politik dan adat, tak ada simbol yang muncul tanpa makna.

Baca Juga :  Pemuda Ambalau Desak DPRD Maluku Perjuangkan Status Jalan Lingkar

Menariknya, dalam logo Pemerintah Daerah Maluku, terdapat beberapa warna dominan yang memiliki filosofi mendalam:

Hijau melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.

Kuning keemasan mencerminkan kejayaan dan kekuatan.

Putih sebagai lambang kejujuran dan kesucian.

Merah yang menyiratkan semangat perjuangan.

Biru yang melambangkan ketenangan dan kedamaian.

Namun, dalam penyambutan kali ini, hanya biru yang tampak mencolok. Apakah ini mencerminkan pesan politik tertentu atau hanya kebetulan belaka?

Adat Tetaplah Adat, Tantangan Tetaplah Tantangan

Terlepas dari spekulasi warna, adat tetaplah adat. Raja Laha dan para ibu-ibu negeri Laha segera membungkus sang pemimpin dengan kain gandong—simbol persaudaraan yang tak ditentukan oleh warna. Tarian cakalele mengiringi, mengingatkan bahwa penghormatan di bumi Maluku melampaui spektrum warna dan perbedaan.

Namun, sambutan ini hanyalah awal. Tantangan besar telah menanti. Di ruang VVIP, suasana semakin khidmat. Latupatti Maluku, Latupatti Kota Ambon, serta jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD Maluku, Kapolda, Pangdam Pattimura, Kajati, Danlantamal, Danlanud, dan Sekda Maluku telah menanti. Setelah rehat sejenak, duet pemimpin ini bergerak ke Kantor Gubernur Maluku, bersiap menyusun kebijakan yang akan menentukan arah masa depan daerah ini.

Baca Juga :  KLARIFIKASI TERKAIT PENYALURAN DANA DESA TAHAP I TAHUN 2025 DI DESA JERUSU, KECAMATAN KEPULAUAN ROMA, KABUPATEN MBD

Salah satu tantangan utama yang menanti Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath adalah kajian utang Pemprov Maluku ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Utang ini, yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya, menjadi beban keuangan besar yang harus segera diselesaikan agar tidak menghambat pembangunan.

Selain itu, tata kelola pemerintahan yang baru juga menjadi perhatian utama. Hendrik dan Vanath diharapkan mampu menghadirkan sistem pemerintahan yang lebih transparan, efisien, dan pro-rakyat. Reformasi birokrasi, pengelolaan anggaran yang lebih ketat, serta mendorong investasi dan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan mereka.

Apakah warna syal ini sebuah pesan politik, atau hanya kebetulan? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, satu hal yang pasti, warna yang benar-benar akan menentukan nasib Maluku bukanlah kain di leher pemimpin, melainkan kebijakan yang mereka ukir dalam sejarah.

Penulis : Weyber Pagaya,SH

Berita Terkait

BANK MALUKU MALUT TERUS TUMBUH SEHAT DAN PROFESIONAL: KOMITMEN TRANSPARANSI, INOVASI DIGITAL, DAN PERLINDUNGAN NASABAH
Walk By Faith Not By Sight ONURI SION WAIYARI DI RESMIKAN
Minim Pembangunan di Aru, Wakil Rakyat Desak Perhatian Serius
Mahasiswa Desak DPRD Maluku Percepat Penyelesaian Jalan Lingkar Ambalau
Pemuda Ambalau Desak DPRD Maluku Perjuangkan Status Jalan Lingkar
Zain Syaiful Latukaisupy Tegaskan Dukungan Penertiban Tambang Batu Sinabar di Huamual
KLARIFIKASI TERKAIT PENYALURAN DANA DESA TAHAP I TAHUN 2025 DI DESA JERUSU, KECAMATAN KEPULAUAN ROMA, KABUPATEN MBD
Dana Desa Tahap I 2025: Maluku Raih Capaian Positif, Tapi MBD Tertinggal Karena Kinerja Lemah Pendamping

Berita Terkait

Sabtu, 25 Oktober 2025 - 14:50 WIT

BANK MALUKU MALUT TERUS TUMBUH SEHAT DAN PROFESIONAL: KOMITMEN TRANSPARANSI, INOVASI DIGITAL, DAN PERLINDUNGAN NASABAH

Kamis, 16 Oktober 2025 - 10:37 WIT

Walk By Faith Not By Sight ONURI SION WAIYARI DI RESMIKAN

Rabu, 10 September 2025 - 10:19 WIT

Minim Pembangunan di Aru, Wakil Rakyat Desak Perhatian Serius

Rabu, 27 Agustus 2025 - 20:51 WIT

Mahasiswa Desak DPRD Maluku Percepat Penyelesaian Jalan Lingkar Ambalau

Senin, 11 Agustus 2025 - 08:10 WIT

Pemuda Ambalau Desak DPRD Maluku Perjuangkan Status Jalan Lingkar

Berita Terbaru