SakamenaNews.com – Langit Bandara Pattimura sore itu menyambut Garuda Indonesia yang membawa Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa, SH., LLM., dan Wakil Gubernur Abdullah Vanath, S.Sos. Pesawat mendarat mulus di Bandara Pattimura, Laha, tepat pukul 15.03 WIT, menandai awal babak baru kepemimpinan di bumi raja-raja.
Begitu kaki mereka menjejak tanah, sambutan adat langsung mengiringi—iringan tarian cakalele, prosesi adat, dan kalungan syal tenun khas Maluku. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian: warna syal yang digunakan.
Hanya ada satu warna—biru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gubernur Hendrik, dengan nada bertanya, menyoroti pilihan itu. “Seng ada warna lain lagi, cuma biru saja?” ucapnya sembari melangkah.
Pertanyaan itu menggantung di udara. Bagi sebagian orang, mungkin ini sekadar kain penyambutan. Namun, dalam adat Maluku, warna bukan sekadar estetika. Merah melambangkan keberanian dan perjuangan, putih mencerminkan kesucian dan persatuan, sementara hitam adalah simbol ketegasan dan kekuatan. Lalu, mengapa kali ini hanya biru yang tampak?
Apakah ini kebetulan? Atau ada pesan tersirat?
Biru memang kerap dikenakan oleh Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath dalam berbagai kesempatan. Warna ini diasosiasikan dengan ketenangan, stabilitas, dan kepercayaan. Bisa jadi, ini adalah refleksi dari arah kepemimpinan yang mereka bawa—kepemimpinan yang menenangkan, solid, dan penuh kepercayaan. Namun, dalam politik dan adat, tak ada simbol yang muncul tanpa makna.
Menariknya, dalam logo Pemerintah Daerah Maluku, terdapat beberapa warna dominan yang memiliki filosofi mendalam:
Hijau melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan.
Kuning keemasan mencerminkan kejayaan dan kekuatan.
Putih sebagai lambang kejujuran dan kesucian.
Merah yang menyiratkan semangat perjuangan.
Biru yang melambangkan ketenangan dan kedamaian.
Namun, dalam penyambutan kali ini, hanya biru yang tampak mencolok. Apakah ini mencerminkan pesan politik tertentu atau hanya kebetulan belaka?
Adat Tetaplah Adat, Tantangan Tetaplah Tantangan
Terlepas dari spekulasi warna, adat tetaplah adat. Raja Laha dan para ibu-ibu negeri Laha segera membungkus sang pemimpin dengan kain gandong—simbol persaudaraan yang tak ditentukan oleh warna. Tarian cakalele mengiringi, mengingatkan bahwa penghormatan di bumi Maluku melampaui spektrum warna dan perbedaan.
Namun, sambutan ini hanyalah awal. Tantangan besar telah menanti. Di ruang VVIP, suasana semakin khidmat. Latupatti Maluku, Latupatti Kota Ambon, serta jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD Maluku, Kapolda, Pangdam Pattimura, Kajati, Danlantamal, Danlanud, dan Sekda Maluku telah menanti. Setelah rehat sejenak, duet pemimpin ini bergerak ke Kantor Gubernur Maluku, bersiap menyusun kebijakan yang akan menentukan arah masa depan daerah ini.
Salah satu tantangan utama yang menanti Hendrik Lewerissa dan Abdullah Vanath adalah kajian utang Pemprov Maluku ke PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Utang ini, yang diwarisi dari pemerintahan sebelumnya, menjadi beban keuangan besar yang harus segera diselesaikan agar tidak menghambat pembangunan.
Selain itu, tata kelola pemerintahan yang baru juga menjadi perhatian utama. Hendrik dan Vanath diharapkan mampu menghadirkan sistem pemerintahan yang lebih transparan, efisien, dan pro-rakyat. Reformasi birokrasi, pengelolaan anggaran yang lebih ketat, serta mendorong investasi dan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci keberhasilan kepemimpinan mereka.
Apakah warna syal ini sebuah pesan politik, atau hanya kebetulan? Hanya waktu yang bisa menjawab. Namun, satu hal yang pasti, warna yang benar-benar akan menentukan nasib Maluku bukanlah kain di leher pemimpin, melainkan kebijakan yang mereka ukir dalam sejarah.
Penulis : Weyber Pagaya,SH








