SAKAMENA – Mamberamo Raya, Papua.
Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Papua 2025 kembali dipenuhi noda hitam. Foto yang beredar luas di media sosial memperlihatkan bagaimana suara sah pasangan calon gubernur Benhur Tomi Mano–Constant Karma (BTM-CK) dihapus dengan tipe-x dan dikurangi dari 310 suara menjadi hanya 10 suara di TPS Kampung Eri, Distrik Mamberamo Tengah Timur. Sementara itu, suara pasangan lawan Matius Fakhiri–Aryoko Rumaropen (Mari-Yo) tetap tercatat 147 suara.
Fenomena ini membuka luka lama Papua: suara rakyat dianggap murah, hanya seharga sebotol tipe-x. Tar tau diri!!! Suara orang Papua bukan barang mainan, apalagi bisa dipermainkan oleh pejabat kotor yang hobi mencuri suara.
Suara yang Tidak Bisa Dikubur
Socrates, filsuf Yunani, pernah menegaskan: “Kebenaran tidak bisa dikubur oleh mayoritas yang berdusta.” Hal ini relevan dengan apa yang dialami BTM-CK. Meski dicurangi, suara rakyat Papua akan selalu menemukan jalannya untuk terdengar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Cicero, orator Romawi, mengingatkan: “Negara runtuh bukan karena musuh di luar, tetapi oleh pengkhianat di dalam.” PSU Papua adalah cermin bagaimana pengkhianatan demokrasi dilakukan secara terang-terangan dengan cara paling murahan: menghapus angka dengan cairan penghapus.
Theys Eluay, Sebagai Pengingat
Nama Theys Hiyo Eluay kembali bergema. Tokoh karismatik Papua ini dibunuh karena keberaniannya menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi bangsanya. Kisah Theys adalah pengingat bahwa Papua telah membayar mahal dengan darah dan nyawa untuk mendapatkan suara mereka sendiri.
Apakah Papua akan terus membiarkan suaranya dihina, dirampas, dan dipermainkan oleh tinta dan tipe-x? Tidak! Ingatan tentang Theys adalah alarm moral agar rakyat Papua tidak tunduk pada manipulasi.
BTM-CK: Dipilih Tuhan, Dicurangi Tetap Ketahuan
Dukungan untuk BTM-CK terus mengalir. Orang Papua, termasuk diaspora Maluku di Tanah Papua, bertekad untuk mengawal setiap suara. Ada upaya menjatuhkan, tapi publik meyakini: karena Tuhan sudah memilih BTM-CK, maka dicurangi seperti apapun tetap akan ketahuan.
Para pejabat kotor, yang menjadikan demokrasi sebagai ladang pencurian, lambat laun akan terbongkar juga. Sejarah selalu membuktikan: kebenaran mungkin tertunda, tetapi tidak pernah bisa dimusnahkan.
Orang Papua, Jangan Diam
PSU bukan sekadar soal angka di C Hasil, tetapi soal harga diri Papua. Jika suara rakyat bisa dihapus dengan tipe-x, maka martabat Papua dipermalukan.
Papua harus berdiri, bersuara, dan melawan. Karena seperti kata Aristoteles: “Keadilan adalah memberi kepada setiap orang apa yang menjadi haknya.” Hak itu adalah suara rakyat Papua, dan suara itu kini sedang dipertaruhkan.
🖊️ Oleh: Weyber Pagaya, SH
(SAKAMENA – Media Independen Rakyat Maluku dan Papua)
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








