SAKAMENA | Malteng – Desa Pelauw, Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah, kembali menggelar ritual adat Cakalele (Ma’atenu Pakapita) pada Kamis, 6 November 2025. Mengusung tema “Tumbuh Bersama, Majukan Warisan Budaya”, gelaran ini berlangsung lancar dan aman, diikuti 2.407 peserta serta menyedot perhatian lebih dari 5.000 masyarakat dan tamu undangan, termasuk tokoh penting seperti Pangdam XVI/Pattimura, Kapolda Maluku, dan Wakil Gubernur Maluku.
Ritual Cakalele bukan sekadar pertunjukan, melainkan ritual sakral yang sarat makna spiritual, simbol keberanian, dan jati diri masyarakat Pelauw. Setiap gerakan dan teriakan dalam tarian perang ini menggambarkan semangat perjuangan leluhur serta keberanian masyarakat Pulau Haruku dalam menghadapi masa lalu.
Rangkaian Ritual yang Sakral
Prosesi Cakalele dimulai sejak dini hari. Pukul 05.20 WIT, para peserta keluar dari rumah masing-masing menuju rumah Soa Kecil (rumah adat marga) untuk berkumpul. Ritual dilanjutkan dengan perjalanan berkelompok menuju rumah Soa Besar dan kemudian ke tiga Soa Rumpun utama di Negeri Pelauw: Sahubawa, Tualepe, dan Tualeka.

ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pukul 08.45 WIT, peserta menuju lokasi keramat di tiga penjuru: Barat (Keramat Matasiri), Selatan (Keramat Kepala Air), dan Timur (Keramat Wailapia). Di masing-masing lokasi, mereka melakukan ritual inti, termasuk makan bersama, mandi bersih, dan bakar damar. Semua kegiatan ini mencerminkan harmoni antara manusia dan leluhur, sekaligus menjaga keseimbangan spiritual Negeri Pelauw.
Sambutan Meriah untuk Kepala Daerah
Sore hari, kedatangan rombongan Wakil Gubernur Maluku Abdullah Vanath, Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, beserta Forkopimda Maluku menambah kemeriahan acara. Para tamu disambut dengan tarian adat oleh Sanggar Seni dan Budaya Haitanamalatu di pelabuhan Desa Pelauw sebelum bersilaturahmi dengan Raja Pelauw, Bapak Roni Herli Latuconsina.
Puncak acara berlangsung di Baileo Asari mulai pukul 16.05 WIT. Tiga rombongan peserta dari berbagai keramat tiba secara bergantian, menampilkan tarian Cakalele yang gagah berani. Rombongan terbesar berasal dari Keramat Hutan Uarual (Soa Tualeka) dengan 1.205 peserta, disusul Keramat Matasiri (967 peserta) dan Keramat Kepala Air (835 peserta).

Makna dan Tujuan Budaya
Menurut catatan adat, Cakalele merupakan penghormatan kepada leluhur, sekaligus simbol martabat, keberanian, dan semangat persatuan masyarakat Pelauw. Penggunaan senjata tradisional seperti tombak, parang, dan perisai menambah nilai historis dan spiritual, mengingatkan generasi muda akan keberanian para pejuang masa lalu.
Selain fungsi spiritual dan historis, Cakalele juga memiliki nilai ekonomi dan pariwisata. Dukungan penuh dari pemerintah lokal dan antusiasme masyarakat menunjukkan komitmen bersama untuk mengembangkan wisata budaya Pulau Haruku sebagai bagian dari peningkatan perekonomian daerah.
Catatan Khusus
Kegiatan ritual berakhir pukul 17.50 WIT dalam kondisi aman dan lancar. Bagi masyarakat Pelauw, Cakalele bukan sekadar pertunjukan—Cakalele adalah denyut kehidupan, jati diri, dan warisan leluhur yang harus terus dilestarikan.
Masyarakat setempat dan pengunjung diharapkan terus menjaga dan mengapresiasi warisan budaya Maluku, sehingga ritual Cakalele tetap hidup dari generasi ke generasi.
SAKAMENA NEWS – Pelestarian Budaya adalah Tanggung Jawab Kita Semua
#CakalelePelauw #BudayaMaluku #WarisanLeluhur #PariwisataMaluku #PelestarianBudaya #PulauHaruku #IdentitasPelauw
Penulis : EZF
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








