Api Pattimura Menyala dari Gunung Saniri, Tuhaha: Seruan dari Leluhur, Panggilan untuk Generasi Muda
SAPARUA, SAKAMENA NEWS – Di balik pepohonan rimbun dan kabut tipis yang menggantung di lereng Gunung Saniri, denting tifa mulai terdengar pelan-pelan. Langkah-langkah kaki anak negeri berpadu dalam irama yang sama—irama sejarah. Rabu, 14 Mei 2025, bukan hari biasa di Saparua. Ini adalah hari ketika semangat perlawanan bangkit kembali melalui api obor Kapitan Pattimura, dinyalakan dari tempat paling sakral yang menyimpan jejak para leluhur: Gunung Saniri.

Dalam suasana yang kental dengan adat dan sakralitas, Wakil Bupati Maluku Tengah, Mario Lawalata, ST., hadir dan menyatu bersama masyarakat Negeri Tuhaha (Beinusa Amalatu), memaknai kembali warisan besar yang tak ternilai: semangat Pattimura yang tidak boleh padam.
Di atas gunung yang dipercaya sebagai titik spiritual dan historis perjuangan, rombongan adat menyalakan api. Tapi ini bukan sekadar api biasa. Ini adalah api dari ingatan kolektif rakyat Maluku—yang pernah ditindas, pernah bangkit, dan kini terus melangkah. Obor yang menyala itu adalah metafora: bahwa perjuangan, sekalipun raga sang pahlawan telah gugur, tidak akan pernah mati selama api keberanian dan persatuan terus dijaga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah dinyalakan, obor diarak turun gunung oleh para pemuda, pemangku adat, dan masyarakat. Tak ada gegap gempita modern. Yang ada hanyalah tifa, kain adat, cakalele, dan doa dalam semangat. Iring-iringan ini seperti menembus waktu, membawa pesan dari masa lalu untuk masa depan. Masyarakat berdiri di pinggir jalan, tua muda, laki-laki dan perempuan, menyambut dengan mata berkaca. Ada yang berdoa, ada yang menyanyikan lagu-lagu perjuangan, ada pula yang hanya diam menatap api—namun semua sepakat: mereka sedang menyambut arwah perjuangan yang kembali menuntun arah.
Setibanya di Baileo Negeri Saparua, obor disemayamkan. Tidak sebagai simbol mati, tapi sebagai pusat semangat yang akan terus menyala di tengah masyarakat. Baileo—rumah besar adat—hari itu berubah menjadi rumah besar sejarah, tempat bertemunya darah perjuangan dan tekad generasi muda.
Di hadapan masyarakat dan tokoh-tokoh adat, Wabup Mario Lawalata menyampaikan pesan yang kuat dan tulus:
“Prosesi ini bukan sekadar seremoni, tetapi juga momentum penting untuk menanamkan semangat kepahlawanan dan nasionalisme di kalangan generasi muda,” ujar Wabup Mario Lawalata.
Pernyataan itu bukan basa-basi. Di tengah arus modernisasi, teknologi, dan gaya hidup cepat, semangat perjuangan, cinta negeri, dan jiwa merdeka bisa terkikis jika tidak terus dihidupkan. Prosesi ini menjadi ruang kontemplasi bersama, bahwa kita bukan sekadar pewaris tanah ini, tapi juga pewaris jiwa para pahlawan.
Hadir pula dalam prosesi ini masyarakat adat Negeri Tuhaha, para raja se-Kecamatan Saparua dan Saparua Timur, camat, tokoh agama, pemuda-pemudi negeri, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah. Semua elemen berkumpul tanpa sekat. Hari itu, tak ada jabatan, tak ada status—yang ada hanyalah satu nama besar yang mempersatukan semua: Pattimura.
Kapitan Pattimura, atau Thomas Matulessy, bukan hanya pejuang senjata. Ia adalah simbol bahwa orang Maluku mampu berdiri, melawan, dan memimpin. Bahwa dari pulau-pulau yang sering dilupakan, bisa lahir bara yang mengguncang kekuasaan kolonial. Dan bara itu hari ini, menyala kembali dalam obor.
Peringatan 208 tahun perjuangan Pattimura bukan sekadar angka. Ia adalah pengingat akan siklus sejarah, bahwa setiap generasi punya tantangannya sendiri—dan setiap tantangan harus dihadapi dengan keberanian, seperti Pattimura menghadapi meriam Belanda dengan parang salawaku dan keyakinan.
Hari ini, perjuangan bukan lagi di medan perang, tapi di ruang-ruang pendidikan, pembangunan, politik bersih, pelestarian budaya, dan persatuan yang makin rapuh. Maka ketika obor Pattimura menyala, ia menyampaikan satu pesan kepada generasi muda:
“Bangkitlah, anak Maluku! Jangan lupa asalmu. Bawa obor ini dalam hidupmu. Kobarkan semangat Pattimura di mana pun kamu berada, di kantor, di kampus, di negeri rantau. Jadilah Pattimura-Pattimura muda, bukan hanya untuk Maluku, tapi untuk Indonesia!”
Masyarakat Maluku percaya, bahwa api sejarah yang disulut dengan cinta akan terus menyala, dan bahwa prosesi ini akan terus hidup, bukan hanya sebagai tontonan budaya tahunan, tetapi sebagai kompas moral dan spiritual rakyat Maluku.
Sebab selama obor itu menyala, Kapitan Pattimura tidak pernah mati. Ia hidup dalam nadi anak cucunya.
Penulis : Weyber Pagaya,SH
Editor : Tim Redaksi Sakamena News








